Mendeskripsikan cara mengolah sampah-sampah bekas menjadi barang yang serbaguna
Selasa, 16 Agustus 2011
cara membuat parasut
Parasut roket berfungsi sebagai rem udara pada sebuah roket agar gerakan jatuh atau turun ke bawah setelah bahan bakar roket habis menjadi lebih lambat karena gravitasi jadi tidak langsung terjun ke bawah. Parasut roket biasanya dibuat dengan bahan yang tipis, kuat, anti air dan ringan.
Parasut roket sebenarnya tidak jauh berbeda dengan parasut pada umumnya hanya saja parasut dipasang pada sebuah roket. Di blog ini kita akan membuat muatan pada roket berupa parasut roket. Ini sudah termasuk pengalaman saya dan teman-teman dalam pembuatan sistem Recovery pada roket.
Blog ini saya buat semata-mata untuk menumbuhkan semangat kedirgantaraan Nusantara khususnya dunia peroketan Indonesia yang sekarang makin berkembang dan semoga dapat maju dan mampu bersaing dengan negara lain.
Apa yang dimaksud Parasut Roket?
Parasut roket berfungsi sebagai rem udara pada sebuah roket agar gerakan jatuh atau turun ke bawah setelah bahan bakar roket habis menjadi lebih lambat karena gravitasi jadi tidak langsung terjun ke bawah. Parasut roket biasanya dibuat dengan bahan yang tipis, kuat, anti air dan ringan.
Parasut roket sebenarnya tidak jauh berbeda dengan parasut pada umumnya hanya saja parasut dipasang pada sebuah roket.
MEMBUAT PARASUT ROKET
Membutnya sangat mudah dan murah hanya memerlukan barang-barang bekas yang dirangkai dengan modal kreatifitas.
Peralatan:
-Gunting/Silet
-Jangka
Bahan:
-Kantong plastik atau sejenisnya
-Benang
Cara Membuat:
3. Buat lubang-lubang kecil di tepi lingkaran dengan menggunakan ujung jangka. Buat sebanyak 8-16 lubang.
4. Potong benang sepanjang 100-400 mm sebanyak lubang yang dibuat tadi.
5. Masukkan dan ikat benang ke lubang-lubang parasut satu persatu.
6. Setelah semuanya terpasang kemudian rapikan benang dan ikat ujung benang-benang menjadi satu.
7. Ikat tali parasut pada bagian luar atau dalam ruang muatan roket
8. Terakhir, lipat parasut dan masukkan ke dalam ruang muatan roket.
Roket melakukan separasi di udara kemudian parasut mininya terbuka dan mengawali roket untuk turun perlahan di tanah
Roket semakin mendekati permukaan tanah dan akan segera mengakhiri penerbangannya
Roket akhirnya mendarat dengan baik di permukaan tanah dengan parasut mininya
Begitulah tahapan penerbangan parasut roket mulai dari pembuatan hingga pendaratannya.
Sedikit saran agar parasut roket berfungsi!
Sebelum digunakan pada roket sebaiknya parasut diujicoba terbang seperti pengujicobaan beban yang mampu dibawa oleh parasut, kestabilan parasut di udara dan pengujian lipatan parasut agar dapat menyakinkan bahwa parasut dapat terbuka dengan lipatan seperti itu.
Caranya mudah cukup dilempar ke udara saja atau dijatuhkan dari tempat tinggi.
Semoga informasi diatas dapat memberikan ide-ide baru tentang peroketan amatir Indonesia. Bila terdapat kesulitan dalam pembuatannya dapat menanyakannya langsung pada kami di facebook: Sahwawirocketry@ymail.Com atau di nomor ponsel: 0813503193320 atau 085242888788.
Tapi sebelum keluar dapat menambahkan komentar seputar
Parasut roket sebenarnya tidak jauh berbeda dengan parasut pada umumnya hanya saja parasut dipasang pada sebuah roket.
Minggu, 29 November 2009
Muatan Roket Berupa Parasut
Blog ini saya buat semata-mata untuk menumbuhkan semangat kedirgantaraan Nusantara khususnya dunia peroketan Indonesia yang sekarang makin berkembang dan semoga dapat maju dan mampu bersaing dengan negara lain.
Apa yang dimaksud Parasut Roket?
Parasut roket berfungsi sebagai rem udara pada sebuah roket agar gerakan jatuh atau turun ke bawah setelah bahan bakar roket habis menjadi lebih lambat karena gravitasi jadi tidak langsung terjun ke bawah. Parasut roket biasanya dibuat dengan bahan yang tipis, kuat, anti air dan ringan.
Parasut roket sebenarnya tidak jauh berbeda dengan parasut pada umumnya hanya saja parasut dipasang pada sebuah roket.
MEMBUAT PARASUT ROKET
Membutnya sangat mudah dan murah hanya memerlukan barang-barang bekas yang dirangkai dengan modal kreatifitas.
Peralatan:
-Gunting/Silet
-Jangka
Bahan:
-Kantong plastik atau sejenisnya
-Benang
Cara Membuat:
1. Bentuk garis melingkar pada kantong plastik dengan menggunakan jangka. Berdiameter 70 mm sampai 300 mm sesuai dengan ukuran roket.
2. Gunting kantong plastik sesuai dengan garis melingkar.3. Buat lubang-lubang kecil di tepi lingkaran dengan menggunakan ujung jangka. Buat sebanyak 8-16 lubang.
4. Potong benang sepanjang 100-400 mm sebanyak lubang yang dibuat tadi.
5. Masukkan dan ikat benang ke lubang-lubang parasut satu persatu.
6. Setelah semuanya terpasang kemudian rapikan benang dan ikat ujung benang-benang menjadi satu.
7. Ikat tali parasut pada bagian luar atau dalam ruang muatan roket
8. Terakhir, lipat parasut dan masukkan ke dalam ruang muatan roket.
TINGKATAN PENERBANGAN PARASUT ROKET



Begitulah tahapan penerbangan parasut roket mulai dari pembuatan hingga pendaratannya.
Sedikit saran agar parasut roket berfungsi!
Sebelum digunakan pada roket sebaiknya parasut diujicoba terbang seperti pengujicobaan beban yang mampu dibawa oleh parasut, kestabilan parasut di udara dan pengujian lipatan parasut agar dapat menyakinkan bahwa parasut dapat terbuka dengan lipatan seperti itu.
Caranya mudah cukup dilempar ke udara saja atau dijatuhkan dari tempat tinggi.
Semoga informasi diatas dapat memberikan ide-ide baru tentang peroketan amatir Indonesia. Bila terdapat kesulitan dalam pembuatannya dapat menanyakannya langsung pada kami di facebook: Sahwawirocketry@ymail.Com atau di nomor ponsel: 0813503193320 atau 085242888788.
Tapi sebelum keluar dapat menambahkan komentar seputar
cara membuat layang layang
Layang-layang, layangan, atau wau (di sebagian wilayah Semenanjung Malaya) merupakan lembaran bahan tipis berkerangka yang diterbangkan ke udara dan terhubungkan dengan tali atau benang ke daratan atau pengendali. Layang-layang memanfaatkan kekuatan hembusan angin sebagai alat pengangkatnya. Dikenal luas di seluruh dunia sebagai alat permainan, layang-layang diketahui juga memiliki fungsi ritual, alat bantu memancing atau menjerat, menjadi alat bantu penelitian ilmiah, serta media energi alternatif.
Terdapat berbagai tipe layang-layang permainan. Yang paling umum adalah layang-layang hias (dalam bahasa Betawi disebut koang) dan layang-layang aduan (laga). Terdapat pula layang-layang yang diberi sendaringan yang dapat mengeluarkan suara karena hembusan angin. Layang-layang laga biasa dimainkan oleh anak-anak pada masa pancaroba karena biasanya kuatnya angin berhembus pada masa itu.
Di beberapa daerah Nusantara layang-layang dimainkan sebagai bagian dari ritual tertentu, biasanya terkait dengan proses budidaya pertanian. Layang-layang paling sederhana terbuat dari helai daun yang diberi kerangka dari bambu dan diikat dengan serat rotan. Layang-layang semacam ini masih dapat dijumpai di Sulawesi. Diduga pula, beberapa bentuk layang-layang tradisional Bali berkembang dari layang-layang daun karena bentuk ovalnya yang menyerupai daun.
Di Jawa Barat, Lampung, dan beberapa tempat di Indonesia ditemukan layang-layang yang dipakai sebagai alat bantu memancing. Layang-layang ini terbuat dari anyaman daun sejenis anggrek tertentu, dan dihubungkan dengan mata kail. Di Pangandaran dan beberapa tempat lain, layang-layang dipasangi jerat untuk menangkap kalong atau kelelawar.
Penggunaan layang-layang sebagai alat bantu penelitian cuaca telah dikenal sejak abad ke-18. Contoh yang paling terkenal adalah ketika Benjamin Franklin menggunakan layang-layang yang terhubung dengan kunci untuk menunjukkan bahwa petir membawa muatan listrik.
Layang-layang raksasa dari bahan sintetis sekarang telah dicoba menjadi alat untuk menghemat penggunaan bahan bakar kapal pengangkut. Pada saat angin berhembus kencang, kapal akan membentangkan layar raksasa seperti layang-layang yang akan "menarik" kapal sehingga menghemat penggunaan bahan bakar.
Dari Cina, permainan layang-layang menyebar ke Barat hingga kemudian populer di Eropa.
Layang-layang terkenal ketika dipakai oleh Benjamin Franklin ketika ia tengah mempelajari petir.

Terdapat berbagai tipe layang-layang permainan. Yang paling umum adalah layang-layang hias (dalam bahasa Betawi disebut koang) dan layang-layang aduan (laga). Terdapat pula layang-layang yang diberi sendaringan yang dapat mengeluarkan suara karena hembusan angin. Layang-layang laga biasa dimainkan oleh anak-anak pada masa pancaroba karena biasanya kuatnya angin berhembus pada masa itu.
Di beberapa daerah Nusantara layang-layang dimainkan sebagai bagian dari ritual tertentu, biasanya terkait dengan proses budidaya pertanian. Layang-layang paling sederhana terbuat dari helai daun yang diberi kerangka dari bambu dan diikat dengan serat rotan. Layang-layang semacam ini masih dapat dijumpai di Sulawesi. Diduga pula, beberapa bentuk layang-layang tradisional Bali berkembang dari layang-layang daun karena bentuk ovalnya yang menyerupai daun.
Di Jawa Barat, Lampung, dan beberapa tempat di Indonesia ditemukan layang-layang yang dipakai sebagai alat bantu memancing. Layang-layang ini terbuat dari anyaman daun sejenis anggrek tertentu, dan dihubungkan dengan mata kail. Di Pangandaran dan beberapa tempat lain, layang-layang dipasangi jerat untuk menangkap kalong atau kelelawar.
Penggunaan layang-layang sebagai alat bantu penelitian cuaca telah dikenal sejak abad ke-18. Contoh yang paling terkenal adalah ketika Benjamin Franklin menggunakan layang-layang yang terhubung dengan kunci untuk menunjukkan bahwa petir membawa muatan listrik.
Layang-layang raksasa dari bahan sintetis sekarang telah dicoba menjadi alat untuk menghemat penggunaan bahan bakar kapal pengangkut. Pada saat angin berhembus kencang, kapal akan membentangkan layar raksasa seperti layang-layang yang akan "menarik" kapal sehingga menghemat penggunaan bahan bakar.
[sunting] Sejarah
Catatan pertama yang menyebutkan permainan layang-layang adalah dokumen dari Cina sekitar 2500 Sebelum Masehi. Penemuan sebuah lukisan gua di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, pada awal abad ke-21 yang memberikan kesan orang bermain layang-layang menimbulkan spekulasi mengenai tradisi yang berumur lebih dari itu di kawasan Nusantara. Diduga terjadi perkembangan yang saling bebas antara tradisi di Cina dan di Nusantara karena di Nusantara banyak ditemukan bentuk-bentuk primitif layang-layang yang terbuat dari daun-daunan. Di kawasan Nusantara sendiri catatan pertama mengenai layang-layang adalah dari Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin) (abad ke-17) yang menceritakan suatu festival layang-layang yang diikuti oleh seorang pembesar kerajaan.Dari Cina, permainan layang-layang menyebar ke Barat hingga kemudian populer di Eropa.
Layang-layang terkenal ketika dipakai oleh Benjamin Franklin ketika ia tengah mempelajari petir.
[sunting] Rujukan
- Wagner, D. Kites and Culture: The Spirit of Indonesia
- Ruhe B. Muna cave painting is hard to date. Diakses 23 Januari
Langganan:
Postingan (Atom)